Chat with us, powered by LiveChat

Ini Yang Terjadi Jika Thanos Sungguh Musnahkan Separuh Populasi Manusia

Hari ini adalah hari pertama penayangan sebuah film dari Marvel Studios berjudul Avengers: Endgame. Mungkin Sebagian besar dari Anda sudah mengerti premis dari film ini.

Film ini memberi kisah lanjutan pasca sang villain, yakn Thanos, berhasil mengumpulkan seluruh batu Infinity dan melenyapkan separuh populasi manusia dengan sekali ‘jentik’.

Berdasarkan film kita bisa melihat motivasi jentik Thanos yakni mengurangi jumlah populasi manusia agar ketersediaan sumber daya alam cukup bagi kesemuanya.

Namun mari kita bedah dari perspektif ilmu pengetahuan dan teknologi. Melansir dari Earther Gizmodo, ada beberapa hal yang perlu dicatat jika musnahnya separuh umat manusia ini benar-benar terjadi di dunia nyata.

Ternyata ketika kita berpikir bahwa akan ada bencana ekologis, ternyata para ilmuwan menyebut bahwa tidak akan ada signifikansi tertentu meskipun 50 persen orang di dunia lenyap. Namun ternyata menurut konfirmasi dari Kevin Feige yang merupakan Presiden Marvel Studios, yang lenyap 50 persen tak hanya manusia, namun semua makhluk hidup: mulai manusia, hewan, tumbuhan, bakteri, semuanya.

Dari sini, tentu akan ada perubahan yang signifikan karena manusia juga bergantung ke makhluk hidup lain. Meski demikian, menurut seorang paleontolog dari Rowan University bernama Ken Lacovara, jentik Thanos merupakan hal yang buruk, namun populasi manusia akan segera kembali seperti semula.

Ken sendiri melakukan studi terhadap kepunahan dinosaurus 66 juta tahun lalu, dan situasi ini jauh lebih buruk ketimbang jentik Thanos.

Manusia sendiri berada di puncak perkembangan eksponensial sepanjang sejarah. Pada tahun 1960, ada 3 miliar manusia, dan di tahun 2000 ada tambahan 3 miliar lagi. Jadi jika sekarang separuh manusia dimusnahkan. 40 tahun lagi, populasi akan kembali seperti semula.

Menurut sang paleontolog, Thanos dengan jentiknya dianggap gagal. Pasalnya hal tersebut “bukan strategi yang akan menghasilkan efek populasi jangka panjang dengan cara yang diinginkan Thanos.”

Manusia Aman, Namun Hewan Tidak

Ketika diprediksi manusia akan kembali ke populasi awal dalam 40 tahun pasca jentik Thanos, justru ketidakseimbangan spesies datang dari makhluk hidup lain. Hal ini sangat bergantung pada strategi bertahan hidup dari masing-masing makhluk.

Menurut Janet Hoole yang merupakan ahli perilaku hewan dan evolusi manusia di Keele University, menyebut bahwa makhluk dengan reproduksi cepat akan mengalahkan spesies yang keturunannya sedikit. Meskipun mahluk ini memiliki banyak sumber daya.

Makhluk dengan reproduksi cepat seperti tikus, kelinci, serangga, bahkan kanguru, tentu tak akan terlalu terganggu dengan jentik Thanos.

Secara spesifik, ahli ekologi bernama James Faulconbridge mencatat soal kemampuan reproduksi katak menghadapi jentik Thanos. Ketika separuh populasi katak lenyap, dengan kemampuannya menghasilkan 20.000 telur dalam satu musim, dalam setahun saja populasi mereka telah kembali normal. Ia juga mencatat soal nyamuk, yang dapat kembali populasinya hanya dalam 3 bulan saja.

Hal ini berlaku sebaliknya kepada hewan-hewan yang tumbuh dan bereproduksi lambat, seperti harimau. Pada dasarnya, melenyapkan separuh populasi mereka justru mendekatkan kepada pusaran kepunahan. Jentik Thanos akan membuat hewan yang terancam punah makin terancam lagi, makin langka, serta makin tak beragam genetikanya.

Belum lagi buat banyak sekali hewan-hewan yang sulit kawin seperti Badak Jawa. Saat ini, badak jawa hanya tinggal 50 ekor dan mereka sangat rentan dengan perkawinan sedarah. Kemauan reproduksi mereka juga dipengaruhi cuaca dan penyakit musiman. ‘Menyapu’ 50 persen populasinya membuatnya selangkah lagi menuju punah.

Kacaunya Ekosistem

Hubungan predator dan mangsa yang akan terganggu karena jentik Thanos, tentu akan ikut mengacaukan ekosistem. Hal ini akan menyebabkan hama terlalu banyak, tumbuhan habis dimakan herbivora, dan banyak lainnya.

Selain itu, simbiosis mutualisme seperti lebah dan bunga, tentu juga akan kacau. Lebah yang populasinya berkurang bahkan berdampak pada keseluruhan perkembangan bunga yang butuh bantuan penyerbukan dari lebah.

Soal mikroba dan bakteria, ternyata jentik Thanos juga akan berpengaruh. Meskipun di perut manusia banyak memiliki bakteri baik, hal yang paling berpengaruh adalah mikroba di tanah yang mendorong siklos hara, serta mikroba di darat dan lautan yang memperbaiki nitrogen.

Menurut Ben Libberton yang merupakan ahli mikro biologi, jika setengah dari bakteri ini tiba-tiba hilang, tanaman di Bumi akan jadi yang pertama berdampak. Hal ini akan pulih dalam waktu yang sangat lama.

‘Kiamat’ Yang Lebih Buruk Dari Jentik Thanos

Berdasarkan riset terhadap fosil, deretan fenomena seperti asteroid, erupsi gunung berapi yang tak berhenti, serta perubahan iklim yang cepat dan ekstrem, adalah kiamat yang lebih buruk dari jentik Thanos.

Menurut Alfio Alessandro Chiarenza, seorang doktor paleontologi di Imperial College London, sebuah fenomena yang diberi nama The Great Dying, yang terjadi 252 juta tahun lalu, membunuh 96 persen spesies laut.

“Kehidupan ini hampir sepenuhnya musnah,” ungkap sang doktor. Mereka yang selamat mengambil keuntungan dari tersisanya sumber daya melimpah yang akhirnya tersedia untuk mereka.

Selain itu, pakar paleontologi lain yang merupakan doktor dari University of Birmingham, menyebut pula kalau jentik Thanos tak seburuk apa yang telah diperbuat manusia ke Bumi ini.

Ia menyebut bahwa krisis keanekaragaman hayati yang dialami umat manusia saat ini, serta banyak sekali populasi yang akhirnya berada di jurang kepunahan, semua adalah ulah manusia.

Nah, untungnya Thanos tidak benar-benar ada dan kita masih punya kesempatan seumur hidup kita untuk memperbaiki Bumi ini. Bagaimana menurut Anda?

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *